Rabu, 12 November 2025

bab IV

Infografik: Hasil Penelitian & Pembahasan (Phyphox & AI)

Hasil Penelitian & Pembahasan

Modul Praktikum Fisika Berbasis Phyphox & AI

4.1.1 Tahap Analisis & Desain

Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi masalah fundamental dalam praktikum konvensional dan merancang solusi digital terintegrasi.

⏱️

Masalah 1: KPS Rendah

70% waktu habis untuk perhitungan manual, gagal memicu transfer kognitif.

😒

Masalah 2: Motivasi

Alat manual tidak akurat dan dianggap tidak relevan oleh siswa era digital.

💻

Masalah 3: Kompetensi

Perlu transformasi KPS Analog ke KPS Digital (Berpikir Komputasional).

💡

Solusi: Modul AI-FFT

Akuisisi data presisi (Phyphox) + Analisis komputasi (AI-FFT) via *prompt*.

4.1.2 Uji Hipotesis 1: Validitas Produk

Modul divalidasi oleh tiga kategori pakar untuk mengukur kelayakan ilmiah dan pedagogis (Tabel 4.1).

Skor Validasi Pakar

SKOR RATA-RATA (H_1)

90.21%

Sangat Valid

Modul ini memiliki Validitas Internal yang kuat dan dinyatakan **Layak secara Ilmiah** untuk diuji coba.

4.1.3 Uji Hipotesis 1: Praktikalitas Modul

Modul diuji coba di lapangan untuk mengukur kemudahan penggunaan (*user-friendliness*) dari perspektif siswa dan guru (Tabel 4.2 & 4.3).

Respon Praktikalitas Siswa

Siswa merasa modul **Sangat Praktis**, akurat (mengatasi *human error*), dan relevan (BYOD).

Keterlaksanaan (Guru/Observer)

Alur pembelajaran dinilai **Sangat Baik** dan siswa menunjukkan kemandirian KPS Digital yang tinggi.

Kesimpulan Hipotesis 1 (H_1): Diterima. Modul terbukti Layak (Valid dan Praktis).

4.1.4 Uji Hipotesis 2: Efektivitas Hasil Belajar

Efektivitas diukur dengan membandingkan hasil *post-test* siswa ($n=29$) dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan Target Ketuntasan Klasikal (TKK) (Tabel 4.4).

Perbandingan Hasil Aktual vs. Target Kriteria

Kesimpulan Hipotesis 2 (H_2): Cukup Efektif.

Hasil belajar siswa (rata-rata 72.63) **belum melampaui KKM (75) secara signifikan**. Modul ini berdampak fungsional tetapi belum mencapai efektivitas optimal.

4.2.2 Pembahasan: Mengapa "Cukup Efektif"?

Analisis kualitatif menunjukkan dua faktor pedagogis utama yang menghambat efektivitas modul, meskipun modul tersebut valid dan praktis.

1. Beban Kognitif Ekstrinsik

Menurut **Teori Beban Kognitif (Sweller, 1988)**, siswa terbebani.

Siswa menghabiskan terlalu banyak *working memory* untuk mempelajari *cara kerja* Phyphox dan *cara mem-prompt* AI secara bersamaan, sehingga menghambat pembangunan skema pengetahuan inti GHS.

2. *Black Box Effect*

Siswa kurang dalam **Penalaran Metakognitif**.

Siswa menerima hasil frekuensi dari AI sebagai "jawaban ajaib" tanpa memahami *mengapa* hasil FFT lebih valid daripada perhitungan manual (misalnya, peran reduksi *noise*).

4.2.3 Rekomendasi Revisi Strategis

Berdasarkan temuan efektivitas, disarankan agar implementasi modul dibagi menjadi dua sesi terpisah untuk mengelola beban kognitif dan mengatasi *Black Box Effect*.

SESI I: FOKUS AKUISISI DATA

(Penguasaan Phyphox & Konsep Dasar GHS)

SESI II: FOKUS ANALISIS & METAKOGNITIF

(Analisis AI-FFT & Diskusi "Mengapa FFT Valid")

Infografik ini dibuat berdasarkan Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan: "Inovasi Penggunaan Sensor Smartphone (Phyphox dan AI)".

Desain SPA oleh Canvas Infographics. Rendered with Chart.js & Tailwind CSS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar