Hasil Penelitian & Pembahasan
Modul Praktikum Fisika Berbasis Phyphox & AI
4.1.1 Tahap Analisis & Desain
Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi masalah fundamental dalam praktikum konvensional dan merancang solusi digital terintegrasi.
Masalah 1: KPS Rendah
70% waktu habis untuk perhitungan manual, gagal memicu transfer kognitif.
Masalah 2: Motivasi
Alat manual tidak akurat dan dianggap tidak relevan oleh siswa era digital.
Masalah 3: Kompetensi
Perlu transformasi KPS Analog ke KPS Digital (Berpikir Komputasional).
Solusi: Modul AI-FFT
Akuisisi data presisi (Phyphox) + Analisis komputasi (AI-FFT) via *prompt*.
4.1.2 Uji Hipotesis 1: Validitas Produk
Modul divalidasi oleh tiga kategori pakar untuk mengukur kelayakan ilmiah dan pedagogis (Tabel 4.1).
Skor Validasi Pakar
90.21%
Sangat Valid
Modul ini memiliki Validitas Internal yang kuat dan dinyatakan **Layak secara Ilmiah** untuk diuji coba.
4.1.3 Uji Hipotesis 1: Praktikalitas Modul
Modul diuji coba di lapangan untuk mengukur kemudahan penggunaan (*user-friendliness*) dari perspektif siswa dan guru (Tabel 4.2 & 4.3).
Respon Praktikalitas Siswa
Siswa merasa modul **Sangat Praktis**, akurat (mengatasi *human error*), dan relevan (BYOD).
Keterlaksanaan (Guru/Observer)
Alur pembelajaran dinilai **Sangat Baik** dan siswa menunjukkan kemandirian KPS Digital yang tinggi.
Kesimpulan Hipotesis 1 (H_1): Diterima. Modul terbukti Layak (Valid dan Praktis).
4.1.4 Uji Hipotesis 2: Efektivitas Hasil Belajar
Efektivitas diukur dengan membandingkan hasil *post-test* siswa ($n=29$) dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan Target Ketuntasan Klasikal (TKK) (Tabel 4.4).
Perbandingan Hasil Aktual vs. Target Kriteria
Kesimpulan Hipotesis 2 (H_2): Cukup Efektif.
Hasil belajar siswa (rata-rata 72.63) **belum melampaui KKM (75) secara signifikan**. Modul ini berdampak fungsional tetapi belum mencapai efektivitas optimal.
4.2.2 Pembahasan: Mengapa "Cukup Efektif"?
Analisis kualitatif menunjukkan dua faktor pedagogis utama yang menghambat efektivitas modul, meskipun modul tersebut valid dan praktis.
1. Beban Kognitif Ekstrinsik
Menurut **Teori Beban Kognitif (Sweller, 1988)**, siswa terbebani.
Siswa menghabiskan terlalu banyak *working memory* untuk mempelajari *cara kerja* Phyphox dan *cara mem-prompt* AI secara bersamaan, sehingga menghambat pembangunan skema pengetahuan inti GHS.
2. *Black Box Effect*
Siswa kurang dalam **Penalaran Metakognitif**.
Siswa menerima hasil frekuensi dari AI sebagai "jawaban ajaib" tanpa memahami *mengapa* hasil FFT lebih valid daripada perhitungan manual (misalnya, peran reduksi *noise*).
4.2.3 Rekomendasi Revisi Strategis
Berdasarkan temuan efektivitas, disarankan agar implementasi modul dibagi menjadi dua sesi terpisah untuk mengelola beban kognitif dan mengatasi *Black Box Effect*.
(Penguasaan Phyphox & Konsep Dasar GHS)
(Analisis AI-FFT & Diskusi "Mengapa FFT Valid")
Tidak ada komentar:
Posting Komentar