Oleh: Samsul (Guru MA Darul Ulum YPUI Banda Aceh)
Dunia pendidikan kita hari ini sedang dihantui ancaman senyap yang jauh lebih destruktif daripada sekadar kenakalan remaja: Alienasi Ideologi. Jika dahulu otoritas kebenaran mutlak berada di tangan guru dan ulama, kini algoritma media sosial telah mengambil alih peran tersebut, bertransformasi menjadi "mufti digital" yang mendikte cara pandang generasi muda.
Durasi konsumsi konten digital pada siswa dan mahasiswa kita telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Di ruang-ruang gelap layar ponsel, narasi saintisme radikal hingga dekonstruksi nilai disajikan dengan kemasan visual yang sangat memikat.
Siswa kini berhadapan langsung dengan arus yang menggoyang fondasi dasar mereka—mulai dari keyakinan beragama, semangat nasionalisme, hingga nilai-nilai idealisme. Bagi santri Dayah atau siswa Madrasah yang tengah berada dalam fase pencarian identitas, narasi digital ini sering kali terasa lebih "jujur" dan relevan ketimbang doktrin kaku yang mereka terima di ruang kelas. Di sinilah alienasi itu bermula: saat mereka mulai merasa bahwa apa yang dipelajari di sekolah tidak lagi mampu menjawab realitas sains dan sejarah yang mereka tonton setiap hari.
Kita sebenarnya punya preseden sejarah untuk mengatasi keguncangan ini. Pada abad ke-5 Hijriah, Imam Al-Ghazali tidak merespons arus filsafat Yunani dengan pembakaran buku atau pembungkaman pertanyaan. Melalui Ihya Ulumuddin, beliau memilih jalan "penyembuhan" dengan mendialogkan rasionalitas dan spiritualitas.
Jejak serupa juga terlihat pada profil intelektual bangsa kita di masa pergerakan. Banyak dari mereka adalah didikan Barat yang sempat mengalami guncangan identitas akibat benturan nalar modern dan akar budaya. Namun, mereka tidak lantas mencabut akar imannya. Mereka justru melakukan sintesis: menjadi manusia yang sangat logis secara intelektual namun tetap teduh secara spiritual. Sayangnya, jembatan dialog semacam inilah yang hari ini sering terputus di lembaga pendidikan kita.
Kita harus berani melakukan otokritik. Banyak lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal seperti Dayah dan perguruan tinggi, sedang terjebak dalam Formalisme Statis. Kewaspadaan yang kita bangun selama ini cenderung bersifat represif—menekan alih-alih menjawab. Kita sering menganggap kebebasan berpikir sebagai hantu yang menakutkan, padahal ia adalah fenomena intelektual yang harus dijawab dengan argumen yang lebih tangguh.
Ketika seorang siswa bertanya tentang keadilan Tuhan dalam perspektif sains, dan pengajar menjawab dengan tameng, "Jangan bertanya begitu, nanti berdosa," atau memberikan argumentasi narasi pembenaran, maka pada detik itu juga kita telah kehilangan mereka. Mereka akan lari kembali ke internet, mencari jawaban pada algoritma yang mungkin menghargai akal mereka, namun mengabaikan jiwa mereka.
Lembaga pendidikan tidak boleh lagi menjadi benteng yang menutup diri dari luar. Ia harus bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran melalui beberapa langkah strategis:
- Model Diskusi Dialektis: Menghentikan model hafalan mati. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dianggap "tabu" harus dibawa ke meja diskusi ilmiah di dalam kelas.
- Literasi Digital-Spiritual: Pendidik harus melek cara kerja algoritma agar mampu membedakan mana sains objektif dan mana ideologi yang menyelinap dalam konten populer.
Penutup
Alienasi di kalangan generasi muda adalah alarm yang berbunyi nyaring. Kita tidak bisa membendung ledakan informasi dengan ketertutupan. Jika kita gagal membangun jembatan antara teks abad awal dengan nalar abad ke-21, jangan kaget jika kelak kita kehilangan generasi terbaik kita—mereka yang fisiknya ada di dalam kelas, namun jiwanya telah berpindah ke tangan algoritma yang dingin dan tanpa ruh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar